Scripta Mannen Verba Volant

June 24th, 2009

Tidak sengaja tulisan ini saya baca ketika melihat beberapa tumpukan file tugas mahasiswa S2 sastra kontemporer tentang pokok dan tokoh sastra Indonesia. Tepatnya pada tugas milik Pak Nurholis mahasiswa Pascasarjana Sastra Kontemporer, Univ. Padjadjaran 2008, pada mata kuliah Pokok dan Tokoh Sastra Indonesia. Dan betapa senangnya ketika apa yang kita kerjakaan dikutip oleh orang lain. Senang sekali saya membacanya sampai berkali-kali (Haha.. ko bisa ya), berikut kutipan tugasnya:

Hal menarik apabila kita menelisik konvensi-konvensi sastra yang dipaparkan oleh Indra Sarathan (2007) dalam skripsinya Heboh Sastra 1968… Diungkapkan bahwa: pada situasi pasca-Orde Lama awal Orde Baru dn menempatkan cerpen LMM di dalamnya. Tahun 1968 adalah dua tahun setelah keruntuhan Orde Lama dan baru sekitar dua tahun Orde Baru berdiri… masyarakat sedang menatap hari yang lebih cerah… dengan semangat menuju Indonesia yang lebih baik… yang melahirkan tema-tema sastra keagamaan…

Lebih lanjut diungkapkan bahwa; di dalam laporan rapat juri hadiah sastra Horison ditambahkan catatan bahwa diharapkan Danarto… dapat menggarap daerah-daerah baru cerita pendek (lht. Horison, April 1969)… maka, tidak mengherankan jika terdapat kecenderungan tidak tertulis (konvensi) pada 1968… karya-karya sastra yang menggarap tema-tema religius keagamaan.

(Nurholis, “Kontroversi Cerpen LMM Karya Kipadjikusmin.” tugas: Pokok dan Tokoh Sastra Indonesia, 2009. pada hlm. 5 dari 6 halaman)

Wah, senangnya ada yang mengutip. Taksia-sialah apa yang saya kerjakan. Saya menjadi teringat nasihat Pak Nana dulu sebelum kami semua menulis skripsi bahwa apa yang kita tulis akan mengabadi (menjadi artefak untuk adik-adik kelas kita nanti). Dan hari ini saya baru memahaminya: scripta mannen verba volant ‘yang tertulis akan tetap mengabadi dan yang terucap hanya akan berlalu bersama angin.’




Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind