Si Molen
Dirk van Demolen
“Malam gelap dan berangin…”
Alexandre Dumas, The Tree Musketeers
Rotterdam, 8 December 1613, Holland. Malam gelap yang berangin kencang perlahan pudar. Diganti fajar yang tenang, namun dingin masih mencekam. Di kota pelabuhan itu Dirk van Demolen dan kekasihnya Anna Marie harus bergegas keluar rumah. Mereka tetap bergandengan tangan menuju galangan kapal. Sebab Dirk sudah bertekad untuk ikut berlayar.
Ini mungkin perjumpaan terakhir bagi pasangan muda itu, sehingga Dirk tetap memegang erat tangan kekasihnya sepanjang jalan. Dirk akan ikut berlayar menuju penghidupan baru. Dan Anna sedah berjanji akan tetap setia menunggu. Pelayaran menuju sumber rempah dan perjalanan pulang ke negeri sendiri akan memakan waktu sedikitnya 8 (delapan) tahun. Menggunakan kapal besar, menyusuri pantai Afrika dan India.
Cahaya matahari pagi mulai menyinari tiang layar kapal Spuurs Sea Horses. Namun, belum terlihat tangga menuju dek diturunkan. Sehingga, Dirk dan Anna memutuskan untuk berada tidak terlalu dekat dengan kapal. Mereka memilih bagian dermaga yang sedikit lengang.
Hanya ada tukang pai yang baru keluar dan seorang pawang pertunjukan monyet yang sedang sarapan sepotong pai–karena, ia membagi kuenya dengan monyet. Karena lapar, Anne dan Dirk pun memutuskan untuk membeli dua potong pai yang masih segar dan hangat. Di tengah-tengah sarapan pai mulailah mereka membicarakan masa depan hubungannya. Pembicaraan dua sejoli yang sedang memadu kasih di dermaga sepi.
Dirk: “Oh, Anna jangan pernah melupakanku?”
Anna: “Tentu saja Dirk, karena engkaulah cinta sejatiku.”
Dirk: “Terima kasih Anna, aku akan berlayar setulus hati. Menuju penghidupan yang lebih baik, menabung untuk rencana pernikahan kita.”
Anna: “Jangan terlalu lama engkau di perantauan, Dirk. Aku akan setia menunggu.”
Dirk: “Cintaku tidak akan pudar, akan selalu sehangat pai yang lembut ini Anna.” (Ya, fitrah manusia akan selalu mencari persamaan-persamaan untuk menunjukan perasaannya. Dan tentu saja yang mudah ia pahami yaitu sesuatu yang dekat dengannya. Sebagaimana Drik mengibaratkan cintanya dengan kue pai yang lembut dan hangat).
Anna: “Terima kasih Dirk. Aku akan setia menunggumu.”
Anna memeluk Dirk, dan kemudian kedua-duanya mulai berdekapan.
Anna: “Dan cintaku akan tetap setia, Dirk.” Dan tentu saja Anna segera juga mencari perumpamaan yang bagus untuk meyakinkan kekasihnya itu. Maka: “Dan cintaku akan tetap setia, Dirk. Seperti monyet pertunjukan yang selalu mengikuti majikannya.” Karena tentu saja yang Anna lihat tinggal monyet yang setia bersama majikannya.
Dirk: “Dan setiap kali aku memakan pai, aku akan selalu mengingatmu Anna Marie.”
Anna: “Oh sungguh romantis Dirk. Dan setiap kali aku melihat monyet aku akan mengingatmu, Dirk sayangku!” (Oow!)
“Oh, konyol sekali.” Bisik tukang pai sambil mendorong rodanya kepada pawang pertunjukan monyet. “Haha… memang kalian para pelaut Netherland bodoh!” Pawang monyet memaki sambil pergi “benar-benar tolol!” Namun, dua sejoli itu tetap saja berpelukan erat sepanjang pagi. [8/12/08]
Books |Leave a Reply