O, Hatiku Terbakar Dalam Tenang dan Datar
Berdering teleponku ditengah jalan dalam perjalanan pulang. Didalamnya mengabarkan bahwa istriku masuk rumah sakit dengan datar-datar saja. Maka segera aku kalut dan berganti angkot menuju Rumah Sakit Umum Sumedang. Segera aku membalas menelepon pamanku. Menanyakan ruang mana istriku ditempatkan. Kenanga no. 3.
Kutempuh lorong Rumah Sakit berbau anyir dan bersuara gaduh sebab kedatanganku berbarengan dengan seorang ibu hamil yang kesakitan yang mungkin segera melahirkan yang diantar banyak orang yang juga gaduh karena perawat terlihat tenang-tenang saja.
Setelah dua kali aku menuruni tangga, aku segera berbelok menuju ruang dimana istriku. Dan segera kulihat tanteku duduk di kursi tunggu dengan menopang dagu. Segera kusapa dan mengajaknya kedalam. Aku ingin mengetahui kabar istriku. Tak ada dokter, pamanku yang menjelaskan semuanya, bahwa istriku sakit febris dan dengan datar pamanku menjelaskannya sebagai sakit flu yang kecapekan. O, hatiku terbakar mencernanya. Betapa jasa ibu rumah tangga yang berkeringat membangun keluarga.
Mataku berkabut dan segera meneteskan embunnya didepan istriku yang tertidur tenang. Mungkin tangis mencoba memadamkan api yang membakar hatiku, betapa gejolak jiwaku mendengar penjelasan paman yang datar. Tanteku mengusap punggungku yang tertunduk didepan istriku yang tertidur tenang. Agar tangisku tak mengganggu tidurnya yang tenang.
Kubelai rambut istriku yang berpakaian serba putih bersih. Dan kukecup keningnya yang lembut dengan mengucap doa agar ia dikuatkan jalani sakit agar bisa mensyukur sehat dari Sang Pemilik Sejati. Lama aku mengecup keningnya karena banyak harapan dan permohonan maaf mencair didalamnya. Gerai yang terbuka menyudahinya.
Pamanku menasihatiku agar aku segera pulang untuk kembali lagi kesini. Selain untuk membawa tikar dan termos air panas, aku disuruhnya segera menemui anakku yang diceritakan pamanku selalu menanyakan dimana ibunya. Pamanku tersenyum datar. Aku paham perasaannya. Aku bergegas menuju pulang menemui alif kecilku.
Dirumah keluargaku sedang berkumpul. Termasuk kakaku yang paling tua, mungkin sengaja datang dari jauh. Hanya bertatap dengan semuanya, tak sempat kuhiraukan. Sebab tangis anakku dipangkuan neneknya melengking menyebut-nyebut mama. Setelah menidurkannya aku bercengkrama dengan semuanya. Kakaku yang paling tua memulai pembicaraan yang tampaknya serius. Bahwasanya semuanya telah sepakat agar jangan menghawatirkan biaya perawatan istriku yang dikata pamanku sakit febris.
Aku terpaku dalam cemas. Namun telepon dalam saku bergetar dan kuangkat bahwa didalamnya aku disuruhnya bergegas ke Rumah Sakit karena istriku kejang setelah diberi suntik 250 ribu. Tanteku pun menyuruhku untuk datang dengan semuanya. Dan dalam kalimat terakhirnya tak terkecuali anakku. Dan yang mendengung didalamnya adalah nada yang tak mendatar lagi; bergegas menuju Rumah Sakit secepatnya. Bergegaslah aku dan semuanya manuju Kenanga no. 3.
Tak kutemui tante paman dan istriku didalamnya. Adikku menanyakannya pada suster bahwa baru saja pasien diruang itu dipindahkan. Segera semuanya menemui pamanku di kursi tunggu ruang ICU. Tak seorangpun diperbolehkan masuk. Dan dokter keluar menanyakan siapa keluarga pesien itu. Aku manghadapnya. Ia mengabarkan semuanya telah tenang dengan datar.
Namun batinku ledak amarah gusar dengan tanya kepada bahasa tenang yang datar yang telah membuatku terbakar.
Current Affairs |2 Responses to “O, Hatiku Terbakar Dalam Tenang dan Datar”
Leave a Reply
Bo’oNg bGt siE ..
Kan Ga giTu … hE ..
NAMANYA JG FIKSI NENG.