ASDRAFI

June 26th, 2006

Angin lembut menyambut kami yang datang. Pemandangan tenang, bahkan suasana nyaris lengang. Kira-kira begitulah keadaannya jika kita menengok Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI) saat ini.

Padahal dulu pada tahun 1951-1954 Sekolah Seni Drama dan Film Indonesia (SSDRAF-cikal bakal ASDRAFI) di bawah asuhan sutradara Sri Murtono, pernah sukses mementaskan drama kolosal Sumpah Gajah Mada yang kolosal melibatkan 2.000 personil di Alun-alun Utara, lapang IKADA (sekarang Tugu Monas) Jakarta, dalam rangka Ulang Tahun ke-4 Kodam Dipenogoro. Sebuah capaian prestasi yang monumental pada saat itu.

SSDRAF berdiri pada tahun 1951 dibawah naungan Institut Kebudayaan Indonesia. Dan ditempatkan di lantai II sebuah toko di Jalan Malioboro, tepatnya di depan Hotel Garuda. Sangat strategis mengingat Yogyakarta sebagai ujung tombak kebudayaan Indonesia pada saat itu dan lebih khususnya Malioboro sebagai tempat yang ramai, bisa dibayangkan betapa hidupnya suasana pada saat itu.

Tahun 1953 SSDRAF pindah tempat di Dalem Pakuningratan Jln. Sompilan Ngasem no. 12 Yogyakarta atas izin Pakuningrat dan pada tanggal 5 Mei 1955 SSDRAF menjadi ASDRAFI dan dipimpin langsung sebagai direktur oleh Sri Murtono. Pada tahun 1956 dalam rangka 200 tahun Yogyakarta ASDRAFI mementaskan Genderang Baratayudha di Alun-alun Utara Yogyakarta.

Kemunculan akademi teater
Terlahir dari kesadaran untuk membangun dan memajukan teater nasional agar lebih dapat dipertanggungjawabkan dari segi seni dan ilmu penalaran. Maka lahirlah ASDRAFI tahun 1951 di Yogyakarta dan ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia) di Jakarta pada tahun 1957. ASDRAFI di tokohi oleh Sri Murtono, Harymawan, dkk. sedangkan ATNI pada saat itu ditokohi oleh Usmar Ismail, D.Djajakusuma, Asrul sani, dkk.

Kedua lembaga tersebut banyak menelurkan beberapa tokoh teater yang mumpuni seperti Steve Lim (Teguh Karya), Wahyu Sihombing, Sukarno M. Noor, Galib Husein, dsb. Adalah orang-orang teater jebolan ATNI. Sedangkan di kubu ASDRAFI melahirkan tokoh-tokoh diantaranya Putu Wijaya, Maruli Sitompul, Mein Brojo, Abdul Kadir dsb. Hanya sekadar menyebut nama saja seiyanya tidak tepat jika kita mengkotak-kotakan para tokoh apalagi menyebut ketenaran dikarenakan banyak tokoh yang dilahirkan dari kedua lembaga tersebut sebab pada kenyataanya banyak orang yang menimba ilmu dari dua lembaga tersebut sekaligus.

Terbentuknya Badan Pembina Teater Nasional Indonesia
Pada tanggal 28 November sampai 2 Desember diselenggarakan Musyawarah Pembentukan federasi Teater Se-Indonesia di pendapa ASDRAFI di Yogyakarta. Hal ini dilakukan atas dasar kemelut peristiwa Lekra sebagai Lembaga Kesenian Rakyat yang memanfaatkan kebudayaan dan kesenian sebagai alat guna melanggengkan kepentingan politik komunisnya. Dengan banyak mementaskan drama-drama anti agama, anti feodalisme, dan anti kapitalisme. Namun gagalnya pemberontakan G30 S PKI pada 1965 menjadikan tahun 1966 suatu masa baru dalam kebebasan berkesenian termasuk tater didalamnya.

Dewasa ini ASDRAFI tak sehebat dulu. Tetapi sejarah telah mencatat nama besarnya. Atap pendopo yang bocor, lantai yang kotor, hanya beberapa siswa yg bertahan, demi mempertahankan sejarah yang besar. Namun pada tanggal 17 November 1999 dalam Festival Teater Musim Panas ASDRAFI dinobatkan sebagai penyaji terbaik II dengan lakon Sang Teaterwan. Memasuki tahun 2000 ASDRAFI mencoba bertahan dengan banyak berkiprah bersama gabungan teater-teater SMA dan Perguruan Tinggi. Semoga kuat bertahan ditengah himpitan zaman yang terus cepat berkembang. (catatan studi banding thn.2005)




4 Responses to “ASDRAFI”

  1.   Eyank Ivan on June 30, 2006 10:56 pm

    He he.. nDra’, u ngambil ini dari laporan jalan-jalan ke Jogja ya..??

    ^_^

  2.   Hellen on July 3, 2006 6:38 am

    hehe iya van aye kbagian ngerjain laporan asdrafi tp modelnya aye ga mau dikotak-kotakin kaya /1.1 produk yg dihasilkan/ /1.2 aktor/ ah basi yg gitumah terlalu kaku kan ayemah aliran air takterkendali. yang doain aye ye mo kkn d indramayu yu..

  3.   logika indra on July 3, 2006 7:21 am

    iya van itu model tulisan saya bwt laporan kkl.

  4.   ranang aji sp on March 11, 2009 1:00 am

    kontemplasi atas sejarah muram,terasa bahwa angin yang memenuhi ruang pendopo asdrafi mengelus kerinduan yang dendam…kemna ya teman-teman?

Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind