Ketika Ajal Tiba
Balutkanlah sekadar kafan hingga menutupi tubuhku, dan perkenankanlah aku
mendengar adzan untuk yang terakhir kali. Dirikanlah shalat agar kamu
mengingat maut. Timbunlah jasadku dengan tanah yang baik tanpa meninggikan permukaan. Dan aku akan berterima kasih dengan angin yang menyapa.
(2004)
ASDRAFI
Angin lembut menyambut kami yang datang. Pemandangan tenang, bahkan suasana nyaris lengang. Kira-kira begitulah keadaannya jika kita menengok Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI) saat ini.
Padahal dulu pada tahun 1951-1954 Sekolah Seni Drama dan Film Indonesia (SSDRAF-cikal bakal ASDRAFI) di bawah asuhan sutradara Sri Murtono, pernah sukses mementaskan drama kolosal Sumpah Gajah Mada yang kolosal melibatkan 2.000 personil di Alun-alun Utara, lapang IKADA (sekarang Tugu Monas) Jakarta, dalam rangka Ulang Tahun ke-4 Kodam Dipenogoro. Sebuah capaian prestasi yang monumental pada saat itu.
SSDRAF berdiri pada tahun 1951 dibawah naungan Institut Kebudayaan Indonesia. Dan ditempatkan di lantai II sebuah toko di Jalan Malioboro, tepatnya di depan Hotel Garuda. Sangat strategis mengingat Yogyakarta sebagai ujung tombak kebudayaan Indonesia pada saat itu dan lebih khususnya Malioboro sebagai tempat yang ramai, bisa dibayangkan betapa hidupnya suasana pada saat itu.
Tahun 1953 SSDRAF pindah tempat di Dalem Pakuningratan Jln. Sompilan Ngasem no. 12 Yogyakarta atas izin Pakuningrat dan pada tanggal 5 Mei 1955 SSDRAF menjadi ASDRAFI dan dipimpin langsung sebagai direktur oleh Sri Murtono. Pada tahun 1956 dalam rangka 200 tahun Yogyakarta ASDRAFI mementaskan Genderang Baratayudha di Alun-alun Utara Yogyakarta.
Kemunculan akademi teater
Terlahir dari kesadaran untuk membangun dan memajukan teater nasional agar lebih dapat dipertanggungjawabkan dari segi seni dan ilmu penalaran. Maka lahirlah ASDRAFI tahun 1951 di Yogyakarta dan ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia) di Jakarta pada tahun 1957. ASDRAFI di tokohi oleh Sri Murtono, Harymawan, dkk. sedangkan ATNI pada saat itu ditokohi oleh Usmar Ismail, D.Djajakusuma, Asrul sani, dkk.
Kedua lembaga tersebut banyak menelurkan beberapa tokoh teater yang mumpuni seperti Steve Lim (Teguh Karya), Wahyu Sihombing, Sukarno M. Noor, Galib Husein, dsb. Adalah orang-orang teater jebolan ATNI. Sedangkan di kubu ASDRAFI melahirkan tokoh-tokoh diantaranya Putu Wijaya, Maruli Sitompul, Mein Brojo, Abdul Kadir dsb. Hanya sekadar menyebut nama saja seiyanya tidak tepat jika kita mengkotak-kotakan para tokoh apalagi menyebut ketenaran dikarenakan banyak tokoh yang dilahirkan dari kedua lembaga tersebut sebab pada kenyataanya banyak orang yang menimba ilmu dari dua lembaga tersebut sekaligus.
Terbentuknya Badan Pembina Teater Nasional Indonesia
Pada tanggal 28 November sampai 2 Desember diselenggarakan Musyawarah Pembentukan federasi Teater Se-Indonesia di pendapa ASDRAFI di Yogyakarta. Hal ini dilakukan atas dasar kemelut peristiwa Lekra sebagai Lembaga Kesenian Rakyat yang memanfaatkan kebudayaan dan kesenian sebagai alat guna melanggengkan kepentingan politik komunisnya. Dengan banyak mementaskan drama-drama anti agama, anti feodalisme, dan anti kapitalisme. Namun gagalnya pemberontakan G30 S PKI pada 1965 menjadikan tahun 1966 suatu masa baru dalam kebebasan berkesenian termasuk tater didalamnya.
Dewasa ini ASDRAFI tak sehebat dulu. Tetapi sejarah telah mencatat nama besarnya. Atap pendopo yang bocor, lantai yang kotor, hanya beberapa siswa yg bertahan, demi mempertahankan sejarah yang besar. Namun pada tanggal 17 November 1999 dalam Festival Teater Musim Panas ASDRAFI dinobatkan sebagai penyaji terbaik II dengan lakon Sang Teaterwan. Memasuki tahun 2000 ASDRAFI mencoba bertahan dengan banyak berkiprah bersama gabungan teater-teater SMA dan Perguruan Tinggi. Semoga kuat bertahan ditengah himpitan zaman yang terus cepat berkembang. (catatan studi banding thn.2005)
Books | Comments (4)Siapa bilang Piala Dunia hanya akan menjadi mimpi Indonesia saja: padahal mimpinya telah terwujud dulu
Indonesia merupakan bagian dari sejarah Piala Dunia, dengan nama Hindia-Belanda di tahun 1938, Indonesia tercatat sebagai negara Asia pertama yang masuk ke putaran final Piala Dunia. Indonesia berpartisipasi dalam pentas sepakbola antar negara terbesar itu dengan nama Dutch East Indies (Hindia Belanda), di Piala Dunia Perancis, 1938.
belum rapi pada saat itu (dan malah semakin semrawut pada saat ini) belum memungkinkan menukangi tim Indonesia menuju Piala Dunia. Sehingga pemerintahan Belanda melakukan sistem asal-asalan yang sepihak dalam hal perekrutan pemain. Sehingga pemain bagus sekelas Djawad, Jazid, Moestaam atau Maladi tak dilibatkan. Boleh jadi bila mereka tergabung dalam skuad Dutch East Indies bisa lain ceritanya. Hingga 1945 memang tercatat masih ada dua badan yang mengendalikan sepakbola Indonesia yakni PSSI dan Nederland Indische Voetbaal Unie (NIVU). Baru pada tahun 1949 menetapkan PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia).
Cadangan:
J Harting (GK), Bing Mo Heng, G Van Den Burg, G Faulhaber, R Telwe, Tan Se Han, Dorst, Teilherber
Pelatih : Johannes Van Mastenbroek.
Sumpah Serapah Bandung Lautan Sampah
Bandung Lautan Sampah!
jaman doeloe. ada bandoeng laoetan api…
jaman duaribu. ada bandung lautan asmara…
jaman duaribu enam BANDUNG LAUTAN SAMPAH!
SAMPAH SEMUANYA!
dan bandung lautan macet…
apalagi pas hari sabtu dan minggu…
dan juga lautan factory outlet itu looo
makin macet aja
(arie darusman* 2006)
Sumpah Jerapah
dulu bandung begitu indah… pohon rindang menyejukkan hati
dari panasnya sinar matahari… oh udaranya juga begitu sejuk.
kemana2 jadi enak. gak keringatan karena ada AC alam… oooh
jalan2 juga enak. jarang macet.
gak ada sampah numpuk.
tapi liat sekarang!
pohon2 semakin jarang.
jadinya? gua keringetan mulu!
udaranya bikin sesak napash. polusi dimana2. dari
mobil. motor. bus. kentut. tai kuda. ditambah
sekarang sampah! jadinya? gua ikut2an bau
sampah tau! cewek2 mana mau deketin gua kalo
gini mulu.
macet dimana2. terutama hari libur… jadinya?
pikiran gua jadi ikutan macet tau!
dan sekarang apa yang bisa kulakukan? sumpah jerapah
kulakukan terus menerus sial sial sial sial sialan
(arie darusman* 2006)
Logika Indra
Cukuplah ri telah terlalu banyak media yg mencaci maki kotamu Bandung tercinta. Sudah bosan kita dengan mendengar keluhan dari sana sini. Tapi apa yang bisa kita lakukan /dan sekarang apa yang bisa kulakukan?/ sprt pertanyaan dalam puisimu itu yaitu inovasi pola berfikir tidak gampang terbawa gelombang. Tapi mencari sudutpandang lain. Seperti salah satu temanku yang berniat mengolah sampah menjadi berkah. Waw semua-mua tunggulah gebrakannya. Semoga saja beliau benar. Gila tuh anak ga pegel-pegel.
—–
*Arie Darusman:
mengecap pendidikan di TK Tadika Puri Palembang (1987) masa-masa arie nan cengeng oek oek plus manja minta ampun. SD negri 428 palembang (1988) masa-masa dihajar dan bandel minta ampyut. SMP negri 4 Palembang (1994) masa-masa yang diikuti bayang-bayang kakak2nya. SMA Xaverius 3 Palembang (1997) masa-masa bersmackdown ria katanya he lovin it. FSRD ITB 2001 (2001) masa-masa bergambar ria. Sastra Indonesia Unpad 2003 (2003) masa-masa jayanya menjayus-jayus. (pantesan rada beda)
hobinya yang pasti kudu wajib itu adalah fitnes. katanya kalo gak fitnes serasa kurang gairah hidup. mengambar. bikin puisi. maen games. ber sms ria krn bisa bikin gua hepi dan relax. baca majalah otomotif dan game. nonton film. ngemil. minum susu coklat. dia tertarik ama bidang entertainment jadi dia suka banget ama es teh manis. (teu nyambung anjrit) katanya itu minuman kudu wajib kalo dia makan diluar. (teuing ah lieur budak teh)
buku favoritnya segala sesuatu tentang kesehatan. otomotif. japanesse culture art
dan life style… (katanya) "banyak juga ya… pantesan aja duit bulananku habis hanya untuk majalah2 itu." rie. hemat rie… kalem kalem. dia juga suka nonton WWE (katanya mari bersmackdown ria!). juga nonton RAW. Gundam (terutama Wing, Seed, dan Seed destiny).Kamen Raider (terutama Black. RX.) juga Kamen Rider Villain yg katanya paling bagus. (lieur budakteh) sekarang tinggal di dago. aya leuwih budakteh untuk selengkapnya klik aja di arieyajusman

